Siapa Sangka, Ternyata Olahraga Salah Satu Faktor Penyebab Epidural Hematoma

Epidural hematoma yaitu kondisi di mana darah masuk dan menumpuk pada ruang yang ada di antara tulang tengkorak dan lapisan dura. Kondisi ini bisa mengakibatkan gangguan kesadaran, pergerakan, penglihatan, dan kemampuan bicara. Umumnya penyebab epidural hematoma adalah cedera kepala yang menyebabkan keretakan tulang tengkorak, sobeknya lapisan dura, atau pembuluh darah pada otak, membuat darah masuk ke ruang yang ada di antara tulang tengkorak atau lapisan dura.

Dilansir dari laman Halodoc ada beberapa faktor penyebab terjadinya epidural hematoma, yaitu:

  • Mempunyai gangguan dalam berjalan
  • Mempunyai riwayat cedera di kepala
  • Tidak menggunakan pelindung saat melakukan atau menjalani aktivitas berisiko tinggi, seperti berkendara dan berolahraga.
  • Lanjut usia.
  • Pecandu alkohol.
  • Mengonsumsi obat mengecer darah.

Namun, bukan hanya yang di atas. Penyebab epidural hematoma juga tergantung pada area yang mengalami kondisi ini.

  • Epidural hematoma tulang belakang lebih jarang ditemui. Cedera ini disebabkan oleh prosedur pengambilan cairan di tulang belakang saat berusaha mengetahui suatu penyakit. Selain itu juga dapat terjadi saat mengonsumsi obat pengencer darah sebagai bagian dari pengobatan.
  • Epidural hematoma kepala adalah salah satu jenis pendarahan yang juga terjadi di dalam kepala. Umumnya diakibatkan oleh cedera kepala yang mengakibatkan keretakan pada tengkorak. Akibatnya, otak akan mulai kekurangan darah dan gejala mulai terlihat.
READ  Yuk, Ketahui 5 Cara Mengobati Epiglotitis!

Seseorang yang mengidap epidural hematoma harus segera mendapat penanganan, karena kondisi ini bisa mengakibatkan kematian. Biasanya epidural hematoma dialami oleh korban kecelakaan lalu lintas. Namun, yang dilansir dari laman Hello Sehat penyebab umum epidural hematoma merupakan cedera yang diakibatkan kecelakaan lalu lintas, jatuh, dan kekerasan fisik atau kecelakaan saat berolahraga yang mengenai kepala. Akan tetapi, epidural hematoma ini biasanya terjadi pada anak-anak dan remaja.

Gejalanya akan muncul beberapa menit atau beberapa jam, setelah mengalami cedera. Gejala yang sering terjadi biasanya pusing, kebingungan, sakit kepala, mengantuk, tingkat kewaspadaan menurun, muntah, hilang kesadaran, dan merasakan lemah pada bagian tubuh yang berlawanan dengan pupil mata yang membesar.

READ  Ini, Lho, Gejala Epulis Fissuratum yang Jarang Diketahui!

Seseorang mungkin akan mengalami pingsan setelah kecelakaan, tetapi akan sadar dan awas selama beberapa saat, sebelum akhirnya tidak sadarkan diri kembali. Bahkan bisa mengalami koma. Langkah pencegah utama yaitu memastikan keselamatan berkendara dengan mematuhi peraturan dan rambu lalu lintas.

Tidak menutup kemungkinan penyebab epidural hematoma bersifat non-trauma, seperti tumor otak, malformasi pembuluh darah, infeksi, dan koagulopati. Semakin muda usianya, semakin rentan terkena epidural hematoma, dikarena seseorang yang masih muda mempunyai lebih besar antara tulang tengkorak dan duramater. Aktivitas fisiknya pun cenderung lebih banyak, sehingga meningkatkan peluang cedera kepala.

Epidural hematoma dapat menimbulkan beberapa komplikasi yang serius bahkan berpotensi mengancam jiwa. Biasanya terjadi jika insiden cedera kepala tidak segera ditangani dengan tepat. Komplikasi tersebut sepertiĀ  pergeseran batang otak, gangguan penglihatan, salah satu tubuh lebih lemah, kerusakan otak permanen, koma, dan kematian.

READ  Mengetahui Jenis-Jenis Spa Tradisional di Indonesia

Untuk menstabilkan kondisi ini dengan melakukan tindakan pertama, setelah itu pemberian obat-obatan dan prosedur operasi. Penanganan sesegera mungkin untuk mengurangi kerusakan otak permanen, walaupun begitu, tetap ada kemungkinan hal tersebut terjadi. Akan tetapi, kondisi ini bisa membaik dengan serangkaian terapi fisik dan obat-obatan.

Jika berkendara dengan motor sangat dianjurkan untuk menggunakan helm berstandar SNI yang sesuai dengan kepala Anda, dan segera hubungi dokter jika merasakan gejala epidural hematoma, penanganan yang tepat dan cepat bisa meminimalisasi akibat. Ingat, pilih dokter yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

 

Sumber gambar : Scitechconnect.elsevier.com