Cedera Kepala Menyebabkan Epidural Hematoma? Kenali Penyakit Selengkapnya

 

Dalam kehidupan sehari-hari, berkendara dan kendaraan lalu lalang adalah hal yang tidak aneh lagi dalam kehidupan sehari-hari. Setiap bulan peningkatan grafis pengguna kendaraan semakin meningkat sehingga menyebabkan jalanan akan semakin padat dan semakin ramai. Hal ini yang menyebabkan rentannya kecelakaan jalanan yang memberikan dampak fatal terhadap korbannya. Terlebih lagi jika korbannya sendiri tidak begitu memerhatikan keamanan dalam berkendara sehingga mengalami berbagai macam cedera, tidak terkecuali yaitu cedera kepala.

Cedera kepala adalah salah satu jenis cedera yang paling umum dialami oleh korban kecelakaan. Baik itu pengendara atau pejalan kaki yang tertabrak pengendara. Cedera kepala yang parah ini berpotensi mengakibatkan kecatatan, kerusakan otak, gangguan mental karena terganggunya saraf sensoris dan motoris sebagai stimulus dan respon, bahkan rentan pula mengalami kematian. Dilansir dari Hellosehat, berdasarkan unggahan media dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2015, Indonesia ternyata menduduki posisi ketiga di Asia detelah Tiongkok dan juga India dengan total kematian akibat kecelakaan lalu lintas angkanya mencapai 38.579 jiwa. Salah satu gejalanya adalah epidural hematoma.

READ  Mengalami KantukĀ  dan Sakit Kepala yang Parah? Awas, Gejala Epidural Hematoma

Dilansir dari Hellosehat pula, epidural hematoma adalah pendarahan yang terjadi antara bagian dalam tengkorak dan selaput tebal yang menutupi otak. Kemudian terjadi pembengkakan otak karena terdapat pergeseran organ akibat hantaman keras pada kepala.

Penyebab epidural hematoma yang paling umum terjadinya penyakit ini adalah karena cedera yang sangat parah di bagian kepala. Selain kecelakaan, penyebab lainnya tidak menutup kemungkinan terjadinya penyakit ini. Seperti jatuh, kekerasan fisik yang langsung mengebai kepala atau kecelakaan saat berolahraga. Jika melihat tanpa penyebab seperti yang disebutkan di atas, epidural hematoma tetap bisa saja terjadi dan umumnya pada anak serta remaja karena selaput yang menutupi otak tidak melekat erat pada tengkorak. Berbeda dengan orang tua.

Seperti yang dijelaskan pada video seorang Psikolog Klinis Deddy Susanto Pj, seorang wanita pengusaha yang mengendarai mobil pada malam hari kemudian mengalami kecelakaan mobil dan koma selama beberapa bulan. Ia mengalami kerusakan kepala yang sangat fatal. Bahkan dokter mengatakan bahwa harapan hidup wanita tersebut sangat kecil dan menganjurkan kepada keluarga untuk segera merelakan kepergiannya. Namun, sang ayah bersih kukuh untuk menyelamatkan wanita itu dan meminta agar dokter melakukan cara apa dengan biaya berapa pun untuk menyelamatkan wanita tersebut. Akhirnya, dokter memiliki cara untuk memasang titanium yang merupakan logam yang lebih mulia daripada emas sebanyak sebelas ruas. Menjalankan operasi selama lebih dari sepuluh jam, dengan Izin Tuhan akhirnya operasi lancar dan wanita itu kembali beraktivitas setelah beberapa bulan meskipun dengan beban titanium di kepalanya yang harus sangat dijaga pola hidupnya. Karena tidak boleh terkena suhu yang terlalu panas atau pun dingin, dan juga ia harus mengonsumsi obat penghilang nyeri selama hidup juga dengan bantuan alat bantu pendengaran karena ikut mengalami kerusakan. Mengapa harus memasang titanium? Karena tempurung kepalanya sudah rusak, dan tidak ada material lain yang teksturnya sama selain titanium tersebut.

READ  Mari Mengenal Secara Singkat Mengenai Gejala Epulis!

Dari cerita tersebut, sungguh harus menjadi perhatian untuk kita, bukan? Untuk itu, kita harus berupaya sedemikian rupa gar dapat mencegahnya. Dilansir dari hallodoc, menganjurkan bahwa untuk menghindari terjadinya cedera kepala dan juga menghindari kecelakaan yaitu dianjurkan untuk selalu mematuhi tata tertib lalu lintas, menggunakan perangkat keamanan saat berkendara, atau juga harus lebih berhati-hati dalam sesuatu hal apa pun. Selain itu, gejala yang dapat ditimbulkan saat terkena cedera kepala, yaitu sebagai berikut:

  • Sering mudah kebingungan.
  • Sering merasakan pusing.
  • Tingkat kewaspadaan serta fokus menurun.
  • Gangguan pendengaran.
  • Gangguan mental karena sistem otak tidak berfungsi dengan baik.

 

Nah, ternyata memang harus banyak waspada dan berhati-hati dalam segala apa pun. Maka dari itu, mulai sekarang tetaplah waspada dan semangat beraktivitas.

READ  Yuk, Ketahui 5 Cara Mengobati Epiglotitis!

 

sumber foto: Alodokter.com